Jumat, 31 Januari 2014

Softskill 18



PRA DAN PASCA JOKOWI (BANJIR DI JAKARTA)


      Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengklaim penanganan bencana banjir di Jakarta pada tahun ini lebih baik dibanding dengan tahun lalu. “walau tidak 100% sempurna, penanganan banjir di Jakarta pada tahun ini dirasa lebih baik,” ujar kepala pusat data informasi, dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, di Jakarta. Lebih baiknya penanganan banjir di Ibu Kota pada tahun ini bisa dilihat dari sejumlah indikasi. Antara lain luas wilayah di Jakarta yang terkena banjir pada 2013 mencapai 2.143 hektare atau 30% dari luas total wilayah. Pada tahun ini wilayah yang terkena berkurang menjadi 1.425 hektare atau 20% dari total wilayah ibu kota.

    Menurunnya wilayah yang terkena banjir otomatis mengurangi jumlah RT/RW yang terendam. Saat 2013 ada 1.177 dan 508 RT/TW yang kebanjiran, pada tahun ini menyusut jadi 696 dan 385. Berkurangnya wilayah yang terendam otomatis bermuara pada penurunan jumlah pengungsi. Jika pada tahun lalu ada 83.930 warga yang mengungsi di 307 titik pengungsian, pada tahun ini jumlah pengungsi merosot jadi 44.784 orang di 197 titik.

   “Jumlah korban meninggal juga menurun dari tahun lalu 41 orang, tahun ini ada 7 orang.” Berkenaan dengan kerugian akibat banjir, Sutopo mengaku belum bisa diperbandingkan lantaran data kerugian pada saat ini sedang direkap. Pada tahun lalu kerugian akibat banjir di DKI mencapai Rp 7 triliun.

   Penanganan lebih baik lantaran antisipasi penanganan bencana banjir sudah disiapkan jauh-jauh hari. BNPB bersama pihak terkait telah melakukan pelatihan kondisi darurat, evakuasi untuk pengungsi, kebutuhan untuk pengungsi sudah disiapkan, pendanaan,  peralatan, sebelum banjir dating.

    Selain itu, Sutopo juga mengatakan bahwa BNPB telah memberikan perahu polyethylene sebanyak 50 unit dan sudah di distribusikan melalui BPBN DKI. Dari 50 unit perahu polyethylene, 12 unit sudah di distribusikan ke kecamatan dan 38 unit sisanya di distribusikan ke kelurahan yang terkena banjir.

    Pengamat tata kota, Yayat Supriatna, juga meilai positif kinerja Jokowi-Ahok dalam mengatasi banjir. Meski baru sekitar setahun menjabat, upaya Jokowi mengatasi banjir dianggapnya lebih nyata ketimbang Foke, baik dari cara structural maupun non structural.

    Melalui cara structural, Jokowi dinilai lebih rajin sowan kepada pemerintah pusat, dalam hal ini Kementrian Pekerjaan Umum. Tidak hanya itu, Jokowi juga aktif melakukan komunikasi dengan pemerintah kota di sekitar Jakarta. Jokowi juga lebih rajin mencari cara mengatasi banjir dengan bekerja sama dengan instansi Negara.

    Adapun cara non-struktural, lanjur Yayat, Jokowi jauh lebih canggih ketimbang Foke. Jokowi lebih memberdayakan stakeholder di ibu Kota, mulai dari perusahaan untuk dana corporate social responsibility (CSR), memberdayakan masyarakat di lingkungan, menggandeng musisi, seniman untuk kampanye lingkungan bersih. Bahkan, kata dia sampai hal kecil, tetapi diyakini berimbas signifikan, misalnya membuat sumur resapan dalam di jalan-jalan.

Referensi : 
 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar