Senin, 21 Oktober 2013

Softskill Pembahasan 4

MASYARAKAT EKONOMI ASEAN


          Tahun 2015 Asean akan makin bersatu dengan terbentuknya Masyarakat Ekonomi Asean di bidang politik, ekonomi dan sosial budaya. Ada tantangan dan peluang. KTT Asean ke-20 sudah selesai dilaksanakan di Kamboja 3-4 April 2012. KTT Asean dihadiri oleh seluruh anggota yaitu: Indonesia, Filipina, Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar dan Kamboja. Salah satu kesepakatan penting yang akan mempengaruhi hajat hidup rakyat Indonesia adalah makin mengerucutnya persiapan pelaksanaan Masyarakat Ekonomi Asean 2015, yakni masyarakat politik-keamanan, ekonomi dan sosio kultural budaya.

                Empat tahun lagi kita akan menyaksikan barang-barang dan jasa dari berbagai negara di Asean dengan mudah bisa ditemui di Indonesia. Demikian pula barang-barang dan jasa milik Indonesia bisa beredar dengan bebas di sepuluh Negara ASEAN. Ini bukan impian, sebab melalui Bali Concord II tahun 2003 pemimpin negara Asean telah sepakat berlakunya Asean Community 2015. Komunitas ASEAN memiliki tiga pilar utama yaitu komunitas politik dan keamanan, ekonomi, dan sosiokultural harus terbentuk pada 2015. Membayangkan Asean sebagai kawasan pasar tunggal dan basis produksi adalah tantangan sekaligus peluang. Kesepakatan para pemimpin Asean bukan tidak mungkin tidak dapat dilaksanakan di Indonesia jika elemen masyarakat di Indonesia menolaknya.  Masih teringat dengan penolakan elit dan rakyat Indonesia sewaktu menolak kesepakatan Kawasan Perdagangan Bebas Asean-China (FTA Asean-China). Kesepakatan yang dicapai 2003 dan berlaku mulai 2010 itu ramai-ramai ditolak DPR, pengusaha dan buruh.

       Selama tujuan tahun sejak disepakati, tampaknya sosialisasi kesepakatan nyaris tidak optimal dilakukan. Elit politik dan ekonomi dalam negeri, serta merta ramai-ramai menolak dan meminta penundaan. Elemen dalam negeri kuatir Indonesia hanya jadi pasar produksi China. Kekuatiran ini bukan tak beralasan, sebab neraca perdangan Indonesia-China memang terjun bebas. Defisit cukup besar terjadi, yang artinya menggerus devisa kita. Sebagai gambaran defisit neraca perdagangan non migas RI-China pada 2010 adalah sebesar US$ 5,6 Miliar, naik dari US$ 4,6 miliar pada 2009 saat krisis global. Namun dibandingkan dengan periode prakrisis 2008 yang defisit US$ 7,2 miliar, defisit pascakrisis 2010 turun signifikan. Berkurangnya defisit perdagangan tahun itu adalah karena pertumbuhan ekspor nonmigas RI ke China lebih tinggi daripada pertumbuhan impor nonmigas. Pada 2010 ekspor nonmigas RI ke China US$14,1 miliar, naik 58% dibandingkan dengan 2009. Impor Indonesia dari China naik 46% mencapai US$19,7 miliar.

          Padahal kedua RI dan China telah sepakat agar volume perdagangan kedua negara tidak saja mencapai US$50 miliar pada 2014, tapi juga lebih berimbang dan saling menguntungkan. Kebalikan dengan kondisi nonmigas, neraca perdagangan migas yang pada 2008 surplus US$3,6 miliar, turun hanya surplus US$0,9 miliar pada 2010. Itu disebabkan oleh ekspor migas RI ke China yang US$3,8 miliar pada 2008, turun ke US$0,7 miliar pada 2010. Turunnya surplus neraca migas membuat neraca perdagangan RI-China untuk keseluruhan produk tetap naik dari US$3,6 miliar pada 2008 jadi US$4,7 miliar pada 2010.

          Pesatnya kenaikan ekspor nonmigas ke China membuat peningkatan pangsa pasar China sebagai tujuan ekspor Indonesia dari hanya 6% pada 2005 menjadi 11% pada 2010. Kekuatiran sejumlah kalangan adalah bertumpu pada bagaimana keamanan pasar dalam negeri. Proteksi pasar, itu yang diinginkan pasar dalam negeri. Padahal dalam era perdagangan bebas kata kuncinya sebetulnya daya saing ekonomi produk-produk Indonesia.

        Sadar akan potensi penolakan, Wakil Presiden RI, Boediono menyatakan seharusnya Indonesia tidak perlu kuatir. " Harusnya Indonesia tidak perlu kuatir akan menjadi pasar barang. Kita harus pandai -pandai mengelola ini. Ini pilihan sekaligus risiko. Ini pilihan tanpa menutup risiko. Saya yakin kita bisa karena pasar kita cukup luas, industri kita seharusnya mampu menguasai pasar, intinya masalahnya kita sendiri, ekonomi, industri jadi tuan rumah di negara kita," kata Boediono di sela-sela KTT Asean di Kamboja.

http://www.beritasatu.com/asia/41368-masyarakat-ekonomi-tunggal-asean-2015.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar