Senin, 07 Januari 2013

Jurnal Ekonomi Koperasi 3

PENGKAJIAN TENTANG DAMPAK PROGRAM STIMULAN
DENGAN POLA BERGULIR MELALUI KOPERASI
DIBIDANG PETERNAKAN, PERIKANAN DAN PERKEBUNAN

Abstract

This study aims at : (1) identifying impact of stimulation program with revolving technique through
cooperative in veterinary, fishery and farming sector to breeders or farmers cooperative and
location aspect in economy, social and culture; (2) evaluating the effectiveness of stimulation
program through revolving technique to achieve main purpose program; (3) drawing up the policy
in the frame of empowerment with revolving technique in cooperative in sector of veterinary,
fishery and farming; (4) increasing income rate and farmer breeder and fisherman welfare for
those who work professionally and self motivated. This study was carried out in 23 provinces and
44 regences. It consisst of primer and secunder data. The method uses descriptive analysis and
simultaneous regresi. Stimulation program with revolving technique has not yet shown positive
impact in veterinary, fishery, and farming sector. Program impact is averagely still low with
elasticity than 1, even some are negative.

I. PENDAHULUAN
   Dalam rangka memacu kinerja dan kontribusi koperasi dan usaha kecil dan menengah
   (KUKM) dalam perekonomian, maka perlu dilakukan upaya pengidentifikasian serta
   pemecahan masalah yang dihadapi oleh KUKM. Pemerintah, dalam hal ini Kementerian
   Koperasi dan UKM berusaha menstimulir pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui
   kebijakan pembinaan dan pengembangan Koperasi dan UKM dengan mengembangkan
   program yang bersifat stimulan dalam bentuk bantuan perkuatan sarana dan permodalan
   dengan pola bergulir. Penyelenggaraan program tersebut bertujuan untuk : (a)
   meningkatkan aktivitas ekonomi pedesaan, (b) meningkatkan volume usaha koperasi, (c)
   meningkatkan penyerapan tenaga kerja, (d) meningkatkan semangat berkoperasi, (e)
   meningkatkan pendapatan anggota, (f) membangkitkan etos kerja.

Model stimulasi dengan pola bergulir melalui koperasi peternakan, perikanan dan perkebunan
(NAKINBUN) telah dilakukan sejak tahun 2002 oleh Kementerian Koperasi dan UKM, antara lain
melalui : (a) Koperasi dibidang peternakan, dengan pola bergulir untuk komoditas ternak sapi
perah dan sapi potong, domba, itik dan ayam, (b) Koperasi dibidang perikanan dengan pola
bergulir untuk sarana dalam bentuk alat tangkap ikan dan penginderaan jarak jauh, (c) Koperasi
dibidang perkebunan dengan pola bergulir untuk budidaya dan agribisnis rami, pabrik kelapa
sawit skala kecil, kopi, sabut kelapa dan gambir. Tahun 2003, program stimulan
dengan pola bergulir telah diberikan kepada koperasi yang bergerak dibidang
peternakan sebanyak 182 koperasi, perikanan sebanyak 47 koperasi dan
perkebunan sebanyak 36 koperasi.

Pengkajian dampak stimulasi dana bergulir dibatasi pada KUKM yang memiliki
kriteria sebagai berikut : 1) telah menerima bantuan, 2) telah mengelola bantuan
tersebut, dan 3) telah mengahsilkan atau berproduksi. Untuk melihat efektivitas
program dana bergulir, maka perlu dilakukan kajian evaluatif tentang dampak
program secara terarah, sistematis dan konsisten.
Berdasarkan uraian di atas maka pokok permasalahan dari penelitian ini adalah :
(1) bagaimanakah dampak program stimulan dengan pola bergulir melalui koperasi
dibidang nakinbun terhadap peternak atau petani, koperasi dan daerah/lokasi ditinjau
dari aspek ekonomi, sosial dan budaya? (2) sejauh manakah tingkat efektivitas
program stimulasi dengan pola bergulir dalam mencapai tujuan program? (3)
bagaimanakah kebijakan dan model perkuatan pola bergulir pada koperasi dibidang
nakinbun yang berbasis partisipasi anggota dan potensi lokal.

Mengacu pada pokok permasalahan di atas, maka penelitian ini bertujuan
mengevaluasi dampak program, melakukan analisa efektivitas dan efisiensi, serta
menganalisa kebijakan dari program yang telah berjalan. Adapun rincian tujuan
penelitian ini adalah : (1) melakukan identifikasi dampak program stimulan dengan
pola bergulir melalui koperasi dibidang nakinbun terhadap peternak atau petani,
koperasi dan daerah/lokasi dari aspek ekonomi, sosial dan budaya, (2) melakukan
evaluasi terhadap efektivitas program stimulasi dengan pola bergulir dalam mencapai
tujuan utama program, (3) menyusun desain kebijakan yang tepat dalam rangka
perkuatan dengan pola bergulir pada koperasi dibidang nakinbun, (4) meningkatkan
tingkat pendapatan dan kesejahteraan petani, peternak dan nelayan yang memiliki
etos kerja profesional dan mandiri.

Manfaat dari kegiatan ini adalah : (1) tersusunnya informasi keberhasilan dan
kegagalan program dana bergulir melalui koperasi dibidang nakinbun, (2)
tersusunnya model-model perkuatan dana bergulir melalui koperasi dibidang
nakinbun yang berbasis partisipasi masyarakat dan potensi lokal, (3) tersusunnya
desain kebijakan dan model kelembagaan pola bergulir melalui koperasi dibidang
nakinbun yang efisien dan produktif yang terkait dengan usaha anggota.

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

2.1. Terminologi dan Definisi Operasional
       Dana bergulir (revolving fund) sering diartikan sebagai dukungan dana yang proses
       pemanfaatannya dibatasi berdasarkan kegunaan dan waktu dengan pola penggunaan
      secara bergulir (pengalihan beruntun) dari penerima bantuan pertama kepada penerima
      bantuan berikutnya. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan program dana bergulir
      adalah dukungan perkuatan modal yang diberikan oleh pemerintah/Kementerian
      Koperasi dan UKM kepada masyarakat yang disalurkan melalui koperasi primer untuk
       dimanfaatkan dengan pola bergulir.

Program bantuan perkuatan berupa dana bergulir diberikan pada tiga bidang usaha
yakni bidang NAKINBUN. Dibidang pertanian bantuannya berupa ; (1) pengembangan
budidaya dan agroindustri serat rami, (2) pengembangan usaha pengolahan kopi, dan
(3) pengembangan usaha pengolahan gambir. Dibidang peternakan berupa : (1)
pengembangan usaha penggemukkan sapi potong impor, (2) pengembangan sarana
usaha peternakan, (3) pengembangan usaha pembibitan sapi lokal, (4) pengembangan
usaha ternak domba/kambing, (5) pengembangan usaha budidaya dan pembibitan itik,
(6) pengembangan usaha persusuan, dan (7) pengembangan usaha persusuan.
Dibidang perikanan berupa : (1) pengembangan usaha penangkapan ikan dengan
fasilitas penginderaan jarak jauh dan (2) pengembangan usaha perikanan.

III. METODE

3.1. Lokasi dan objek penelitian
       Penelitian ini dilakukan di 23 propinsi (Sumut, Sumbar, Riau, Lampung, Sumsel,
       Bengkulu, Babel, Jambi, Banten, Jabar, Jateng, DIY, Jatim, Kalbar, Kalsel, Kaltim, Bali,
       NTB, NTT, Sulsel, Sultra, Sulut, Maluku) pada 44 kabupaten. Desain penelitian dimulai
      dengan menentukan unit analisis atau sampel penelitian terdiri dari : (a) model ekonomi
      sosial untuk unit penelitian koperasi, (b) model ekonomi sosial untuk unit penelitian
      anggota koperasi.

3.2. Instrumen dan variabel penelitian
      Model ekonomi sosial untuk unit koperasi sebagai berikut : (1) fungsi aset koperasi, ASK
      = f (JA, PS, KK), (2) fungsi jumlah tenaga kerja koperasi, JP = f (KPS, JA, N, B, LTK,
      PS), (3) fungsi jumlah jam kerja koperasi, LTK = f(JP, PAK, MAT, MBT, SPK), (4) fungsi
      biaya produksi, CPK = f (OMK, MAT, MBT), (5) fungsi pendapatan penjualan (omset)
      kopersi, OMK = f (LTK, ASK, CPK), (6) Persamaan pendapatan (laba/rugi) operasional
      koperasi, PTK = OMK – CPK.
      Keterangan : ASK = aset koperasi, CPK = biaya produksi koperasi, JA = jumlah anggota

koperasi, JP = jumlah pekerja koperasi, KK = kriteria koperasi (modal awal koperasi), LTK =
jumlah jam kerja koperasi per hari, MAT = rata-rata tingkat pendidikan penurus koperasi, MBT =
rata-rata lama bekerja pengurus koperasi, OMK = pmset koperasi, PAK = partisipasi anggota
koperasi, PS = nilai nominal program stimulan, PTK = pendapatan total koperasi, SPK = sarana
produksi koperasi (kualitas aset koperasi), N = koperasi yang menerima bantuan dana bergulir
di sektor peternakan, I = koperasi yang menerima bantuan dana bergulir di sektor perikanan, B
= koperasi yang menerima bantuan dana bergulir di sektor perkebunan.

Model ekonomi sosial untuk unit anggota koperasi sebagai berikut : (1) fungsi
jumlah jam kerja anggota, LKD = f (JP, PS, LU, EKA, KB, N), (2) fungsi nilai
penjualan (omset) anggota, OMA = f(LTA, PS, KB, CPA, KA), (3) fungsi
partisipasi anggota dalam kegiatan koperasi (semangat berkoperasi), PA =
f(PS, EKA, LU, N), (4) fungsi etos kerja anggota, EKA = f (ICA, PAK, PDA,
UA, JAK, N), (5) fungsi biaya produksi anggota, CPA = f (OMA, JP, PDA, KB),
(6) persamaan pendapatan anggota dari usaha yang dikelola dengan bantuan
dana bergulir, ICA = OMA – CPA.

Keterangan : CPA = biaya per bulan rata-rata yng dikeluarkan anggota untuk usaha yang
mendapatkan bantuan dana bergulir, EKA = etos kerja anggota, ICA = pendapatan anggota
(laba/rugi usaha) dari usaha yangmendapatkan bantuan dana bergulir, JAK = jumlah anggota
keluarga, JP = jumlah pekerja yang terlibat dalam usaha yang dikelola oleh anggota dan
mendapatkan bantuan dari program stimulan, KA = kondisi alam; keseuaian kondisi alam dan
lingkungan tempat usaha yangmendapatkan bantuan program stimulan, KB = kondisi bantuan;
kualitas fisik bantuan program stimulan yang diterima oleh anggota, LTA = totsl jam kerja ratarata
perhari untuk usaha yang dijalankan anggota dan mendapatkan bantuan dari program
dana bergulir, LU = lama usaha, untuk usaha yang mendapatkan bantuan dari program dana
bergulir, N = anggota koperasi yang mendapat bantuan dibidang peternakan, OMA = besarnya
nilai omset rata-rata perbulan dari usaha yang dijalankan anggota dan mendapatkan bantuan
dari program dana bergulir, PAK = partisipasi anggota koperasi, PDA = tingkat pendidikan
anggota, PA = nilai nominal program stimulan.

3.3. Populasi dan sampel

      Metode pengambilan sampel dalam kajian ini adalah dengan teknik purposive
      sampling. Perhitungan sampel berdasarkan propinsi dimana dari 24 propinsi
      tersebut diambil masing-masing 2 kabupaten yang representatif sehingga
      didapatkan kabupatennya seperti pada Tabel.1.

Tabel 1. Penentuan Responden Berdasarkan Sub sektor
1. Peternakan 185 65 130 195 325
2. Perikanan 53 19 38 57 95
3. Perkebunan 35 12 24 36 6
Jumlah Responden 192 288 470

Jenis data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer
diperoleh dari pengurus koperasi dan anggota koperasi, sedangkan data sekunder
diperoleh dari publikasi tertulis. Adapun teknik dan pengumpulan data yang digunakan
adalah kuesioner, wawancara dan studi dokumentasi.
Metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dan metode regresi simultan.

3.4. Metode Analisis Deskriptif
       Dalam analisis deskriptif, digunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Analisis deskriptif
       kualitatif digunakan untuk menganalisis kebijakan program stimulan, bagaimana
       mekanisme program stimulan sesuai dengan juklak dan juknis. Selanjutnya dilakukan
       analisis apakah program stimulan dilaksanakan sesuai dengan mekanisme yang telah
      ditetapkan. Analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk mengetahui dampak program
      terhadap daerah/masyarakat di sekitar lokasi koperasi penerima program sesuai dengan
      hasil data dari kuesioner. Dampak terhadap daerah/masyarakat sekitar diukur dengan
      indikator-indikator munculnya usaha baru dan penyerapan tenaga kerja.

3.5 Metode Regresi Simultan
      Metode regresi simultan digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel exogen
      (exogenous variable) terhadap variable endogen (endogenous variable) dalam hubungan
      yang bersifat simultan (saling berkaitan). Variable exogen adalah variabel yang tidak
     dipengaruhi oleh varibel lain yang terdapat dalam model sistem persamaan simultan,
     sedangkan variabel endogen adalah variabel yang keberadaannya dipengaruhi oleh
     variabel lain yang terdapat di dalam model sistem persamaan simultan.
     Variabel exogen yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah kondisi awal dari
     stakeholders (koperasi dan anggota) serta bentuk dan jumlah bantuan yang diberikan.
     Untuk melakukan analisis dengan menggunakan persamaan regresi simultan dilakukan
     dalam dua tahap yaitu tahap estimasi dan tahap simulasi. Tahap estimasi digunakan
     untuk menduga nilai koefisien dari masing-masing variabel independen, sedangkan
     tahap simulasi digunakan untuk mengetahui dampak dari program stimulan terhadap
     keenam aspek tujuan program.

JURNAL EKONOMI KOPERASI 2

IV. HASIL Kajian

4.1. Gambaran Umum

Sebagian besar sentra yang ada berlokasi di pulau Jawa – Bali sebanyak
4,558 (46.5%), diikuti oleh Sumatera 1,810 atau18.5%, Sulawesi 1,102 atau
11.3%, dan sisanya di Kalimantan beserta pulau-pulau lainnya. Disisi lain,
sekitar 80% industri-industri berskala besar dan menengah berada di Pulau
Jawa. Kondisi ini seiring dengan kepadatan penduduk yang tinggi di pulau
tersebut. Jika dilihat dari populasi UKM di dalam sentra, maka sekitar 74%
sentra di daerah Jawa – Bali memiliki lebih 100 UKM didalamnya. Berikut ini

Penyebaran Sentra Binsis UKM di Indonesia
No. Propinsi Kayu Perikanan
Perkebunan
& Pertanian Tekstil Makanan
Pakaian
Jadi Unggas
Barang
Tanah Liat
Perikanan
Darat
Total Sentra
Peternakan Perpropinsi
1. Bali 13 1 2 16
2. Bangka 1 3 4
3. Banten 1 1 1 6 1 2 1 13
4. Bengkulu 2 9 2 13
5. D.I Aceh 3 5 5 2 3 18
6. DKI Jakarta 9 3 2 2 4 20
7. Gorontalo 1 1
8. Jambi 2 3 3 1 1 10
9. Jawa Barat 6 4 6 7 3 4 5 2 37
10. Jawa Tengah 12 1 1 37 10 4 2 3 1 6 77
11. Jawa Timur 11 2 2 8 2 1 3 2 31
12. Kalimantan Barat 4 2 3 9
13. Kalimantan Selatan 1 1 4 1 7
14. Kalimantan Tengah 5 2 7
15. Kalimantan Timur 4 3 7
16. Lampung 5 1 1 1 2 1 11
17. Maluku 8 8
18. Maluku Utara 1 1
19. NTB 2 2 1 1 12 18
20. NTT 1 1
21. Papua Timur 2 2
22. Riau 4 1 1 1 7
23. Sulawesi Selatan 2 2 3 2 9
24. Sulawesi Tengah 1 1
25. Sulawesi Tenggara 3 3
26. Sulawesi Utara 2 3 5
27. Sumatera Barat 1 1 1 3
28. Sumatera Selatan 5 2 1 3 3 3 1 18
29. Sumatera Utara 1 3 8 1 2 1 2 1 19
30. Yogyakarta 11 5 1 2 19
109 41 44 54 61 17 6 25 9 29 395

Disajikan penyebaran jumlah sentra di masing-masing propinsi seluruh Indonesia
Penyebaran Sentra Binsis UKM di Indonesia
a. Perkuatan Finansial MAP (Modal Awal Padanan) yang Disalurkan melalui
    KSP/USP
    Jumlah sentra yang mendapat perkuatan dana dari pemerintah mulai
    tahun 2001 sampai dengan tahun 2004 sebanyak 1120 sentra yang meliputi
    36.960 UKM. Rata-rata jumlah UKM per sentra adalah 33 UKM dan jumlah
    ini relatif tetap setiap tahunnya. Jumlah dana perkuatan yang dikucurkan
   oleh pemerintah sampai dengan saat ini adalah sebesar Rp
    225.250.000.000,- yang disalurkan melalui KSP/USP yang ditunjuk. Ratarata
   alokasi dana perkuatan per sentra bisnis UKM antara 200 juta sampai
   250 juta, dan rata-rata perkuatan per UKMnya sebesar Rp. 7,3 juta. Hal
   ini secara rinci dijelaskan pada Tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Jumlah Dana Perkuatan Pada Sentra Bisnis UKM

2001   99 3079   31 Rp.22,600,000.00 Rp. 228,282.83 Rp. 7,340.05
2002 332 1073   32 Rp.66,400,000.00 Rp. 200,000.00 Rp. 6,188.26
2003 375 11041 29 Rp.86,250,000.00 Rp. 230,000.00 Rp. 7,811.79
2004 200 6360   32 Rp.50,000,000.00 Rp. 250,000.00 Rp. 7,861.64

melalui KSP /USP pada 32 propinsi

Sumber : kementrian Negara KUKM

b. Perkuatan Non Finansial melalui BDS (Business Development Services)
    Perkuatan non finansial diberikan kepada UKM di dalam sentra bisnis melalui
    BDS. Hingga tahun 2005 jumlah BDS yang difasilitasi untuk melakukan
    pembinaan kepada sentra bisnis sebanyak 957 BDS. Dalam hal ini terdapat
    10 program layanan yang menjadi tugas BDS diantaranya tugas pendampingan,
    layanan informasi, konsultasi, perluasan akses pasar, pengembangan
    teknologi, penyusunan proposal dan lainnya. Dalam menjalankan tugasnya,
    BDS mendapat dukungan dana operasional masing-masing sebesar Rp.
    50.000.000,-sebagai stimulus dalam menjalankan tugasnya. Hasil pengamatan
    menunjukkan bahwa dana ini digunakan untuk membantu BDS dalam
    memberikan pelayanan kepada sentra bisnis UKM, dengan alokasi sebagai
    berikut;

Gambar 1. Alokasi dana operasional BDS
Persentase
Jasa Pelayanan
14%
Pencarian
informasi
30%
Operasional
pendampingan
10%
Operasional
Pelatihan
27%
Overhead
Monitoring 5%
9%
Persiapan
pameran
5%

4.2. Perkembangan Dukungan Perkuatan Finansial pada Sentra Bisnis UKM
       di 10 Sektor
Dana dukungan perkuatan finansial yang disalurkan pada sentra bisnis UKM
pada 10 sektor sebesar Rp 643.395.317,- dan rata-rata perkuatan untuk UKM
per sentra per sektor sebesar Rp 64.339.531,68 untuk pasca perkuatan dan
Rp. 75.757.073 untuk on going. Untuk mengetahui perkembangan dana
perkuatan finansial tersebut dapat dilihat pada Tabel 2 dan 3 berikut ini.

Tabel 2. Jumlah Dana Perkuatan MAP yang Disalurkan KSP/USP Pada 10

Sepuluh



Sektor
Jumlah
Sentra
Jumlah
UKM
Rata - rata
Dana Perkuatan
Persentra
Jumlah
Perkuatan
(Rp. 000)
Rata - rata
Perkuatan
Per UKM
Industri Barang-Barang Kayu/Bambu/Rotan 15 150 1,192,221,467 79,481,431 7,948,143,11
Perikanan laut dan Hasil laut lainnya 7 70 518,697,200 74,099,600 7,409,960,00
Tanaman Perkebunan dan tanaman lainnya 7 70 505,500,000 72,214,286 7,221,428,57
Industri Tekstil dan Tekstil jadi kecuali pakaian 5 50 183,000,000 36,600,000 3,660,000,00
Industri roti,Biskuit, Mie, Makaroni, lainnya 3 30 321,250,000 104,083,333 10,408,333,33
Industri Pakaian jadi dan Barang rajutan 3 30 155,750,000 51,916,667 5,191,666,67
Unggas dan Lain-Lainnya 3 30 128,050,000 42,683,333 4,268,333,33
Peternakan 3 30 170,450,000 56,816,667 5,681,666,67
Perikanan Darat dan Hasil perairan Darat 3 30 271,000,000 90,333,333 9,033,333,33
Industri Barang-Barang dari Tanah Liat 3 30 105,500,000 35,166,667 3,516,666,67
Rata-rata 52 520 3,542,418,667 643,395,317 64,339,531.68

Minggu, 06 Januari 2013

JURNAL EKONOMI KOPERASI 1

KAJIAN STRATEGIS PENGEMBANGAN TAHAP LANJUT
SENTRA BISNIS UKM PASCA DUKUNGAN PROGRAM
PERKUATAN

Abstract
Strategic program to improve SMEs throught closing business centre that has been
done since 2001, must be looked and analysed for later improvement, especially that
which does not have to find unfinancial supported, which is called post supported. The
result of research state of business centre move in wood and fish marine sector is the
advance business centre that has better ability and freedom. From that analysis, to
improve the business centre is needed conglomerate diversification strategy closed
throught two patterns. On the other hand, the intrested case is “on going” business
centre that has better business capacity than with “post supported Fasilitation”.

I. PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) telah mampu menunjukkan kinerja
yang relatif lebih tangguh dalam menghadapi masa krisis yang panjang.
Kontribusi sektor ini pada perekonomian nasional pun cukup signifikan. Pada
tahun 2005 jumlah UKM tercatat 44,6 juta unit atau 99,99 % dari keseluruhan
unit usaha ekonomi yang ada, dengan tingkat penyerapan tenaga kerja sebesar
88,7% dari jumlah tenaga kerja yang ada, atau mencapai 68,28 juta orang.
Data ini mengindikasikan UKM dapat menjadi motor penggerak bagi
pertumbuhan ekonomi nasional, walaupun rata-rata produktivitasnya relatif masih
rendah.
Mengingat struktur UKM yang khas, dengan heterogenitas yang cukup tinggi,
maka pendekatan pembangunan UKM melalui sentra/klaster menjadi salah
satu langkah yang dianggap strategis. Untuk itu proses pengembangan sentra
UKM yang selama ini dilakukan (sejak tahun 2001), disertai dengan memberikan
bantuan perkuatan, baik dalam bentuk finansial maupun non finansial.
Salah satu hasil kajian terhadap sentra yang dilakukan pada tahun 2003 dan
2004 menunjukkan bahwa: a) paling tidak telah ada dampak positif
pengembangan sentra dalam bentuk peningkatan kapasitas sentra, walaupun
kondisi itu belum disertai dengan peningkatan produktivitasnya, b) Sudah terjalin
kerjasama antar UKM dalam sentra yakni di bidang pemasaran (24%) dan
pengadaan bahan baku (19%), c) ditemukan ada persaingan antar UKM dalam
sentra yang cukup tinggi.
Dari beberapa hal diatas dapat dikatakan bahwa, banyak hal yang memerlukan
perhatian lebih lanjut dalam proses pembinaan dan pengembangan sentra
bisnis UKM pasca dukungan perkuatan, termasuk juga keterkaitan sentra
dengan lembaga-lembaga pelaksana yang melakukan dukungan perkuatan
antara lain BDS dan KSP/USP.

1.2. Rumusan Masalah
Dari berbagai permasalahan yang ada, terdapat tiga masalah yang akan dilihat
dalam pengkajian ini yaitu:
a. Bagaimana kemandirian dan kesiapan sentra bisnis UKM pasca dukungan
perkuatan dalam hal kemampuan dan kompetensinya menghadapi
tantangan kompetisi bisnis.
b. Apa “key success factors” yang menentukan keberhasilan sentra bisnis,
serta merumuskan strategi tahap lanjut pengembangannya.
c. Seberapa besar dan bagaimana peran BDS dan KSP/USP dalam
pengembangan sentra bisnis UKM.

1.3. Tujuan dan manfaat
Kajian ini bertujuan untuk:
a. Mengidentifikasi dan menganalisis perkembangan sentra bisnis yang
mendapat dukungan finansial dan non finansial
b. Menganalisis kesiapan dan kemandirian sentra-sentra bisnis pasca
dukungan perkuatan
c. Menginventarisasi bentuk-bentuk fasilitas yang diperlukan oleh sentra
bisnis pasca dukungan perkuatan

Hasil kajian ini diharapkan akan bermanfaat sebagai bahan masukan bagi
pemerintah dalam perumusan kebijakan pengembangan tahap lanjut sentra
bisnis UKM pasca dukungan perkuatan dan perbaikan pembinaan bagi sentra
yang masih dalam proses dukungan perkuatan

II. KERANGKA BERPIKIR

Yang dimaksud dengan sentra bisnis pasca dukungan perkuatan adalah sentrabisnis
yang telah mendapat dukungan perkuatan non finansial selama 3 tahun,
sementara dukungan finansial melalui KSP/USP masih berlanjut. Sesuai dengan
tujuan pemberian perkuatan, seyogyanya bagi sentra bisnis yang sudah selesai
periode perkuatannya sudah mampu menjalankan dan mengembangkan sentranya
sendiri dengan atau tanpa bantuan. Hasil analisis sementara menyatakan belum
terlihat adanya perkembangan yang signifikan terhadap kelompok sentra tersebut
di atas.

Untuk lebih memfokuskan kajian ini, maka objek amatan akan dibatasi pada 10
sektor yang cukup dominan diusahakan oleh sentra. Hasil kajian Kementerian
Koperasi dan UKM tahun 2004, menginformasikan jumlah sentra mencapai 1120
unit yang tersebar dalam 47 sektor usaha. Dari jumlah itu terdapat 10 sektor utama
(67,75%) yang dikelola oleh banyak sentra, dengan komposisi penyebaran sebagai
berikut :
(1) industri barang-barang kayu/bambu/rotan 168 unit (18,30%)
(2) perikanan laut dan hasil laut lainnya 87 unit(9,48%)
(3) tanaman perkebunan dan tanaman lainnya 75 unit(8,17%)
(4) industri tekstil dan tekstil jadi kecuali pakaian 59 unit (6,43%)
(5) industri roti, biskuit, mie, makaroni, lainnya 53 unit(5,78%)
6) industri pakaian jadi dan barang rajutan 49 unit (5,43%)
(7) unggas dan lain-lainnya 37 unit (4.03%)
(8) peternakan 35 unit (3,81%)
(9) perikanan darat dan hasil perairan darat 32 unit (3.49%)
(10) industri barang-barang dari tanah liat 27 unit(2.94%)

Berdasarkan tujuan yang akan dicapai, maka kajian ini didekati melalui pola
sebagaimana terlihat pada skema 1.

Skema 1

SENTRA
YANG SUDAH
HENTI BANTU
ANNYA
DUKUNGAN BANTUAN
PERKUATAN SEBAGAI
“PROYEK” (3 TAHUN)
BDS KSP/USP
KERJASAMA
PEMBINAAN
BANTUAN PERKUATAN
FINANSIAL
BANTUAN PERKUATAN
NON FINANSIAL
DUKUNGAN
DANA UNTUK
OPERASIONAL
DUKUNGAN
DANA (map) UNTUK
UKM DI SENTRA.
Stop
programnya
Bagaimana:
- KINERJANYA ?
- KEMANDIRIANNYA?
- PERTUMBUHANNYA ?
Bagaimana:
TAHAP
PENGEMBANGAN
STRATEGIS SELAN
JUTNYA?
YANG MASIH
MEMPEROLEH
BANTUAN?
SENTRA Bagaimana:
- KINERJANYA ?
- PERTUMBUHANNYA ?
- PROSPEK PERKEMBANGAN?
PADA SAAT KAJIAN DILAKUKAN?
Apakah Sentra memerlukan
dukungan bantuan perkuatan
lainnya? Kalau ya, apa bentuk
nya?
Bagaimana :
STATUS
POSISI &
PERANNYA?
Bagaimana :
STATUS
POSISI &
PERANNYA?
Yang dapat menggam
barkan proyeksinya.
Stop
programnya
DUKUNGAN BANTUAN
PERKUATAN SEBAGAI
“PROYEK” (3 TAHUN)
 

Berdasarkan pengertian seperti di atas, sentra yang menjadi objek kajian adalah
sentra yang memperoleh bantuan perkuatan selama 3 tahun (dibangun tahun 2001-
2002) dengan memakai metode terminate evaluation, dan sentra yang masih
memperoleh bantuan (2002 – 2004) dengan menggunakan metode on going
evaluation.

2.1 Ruang Lingkup
Ruang lingkup kajian meliputi :
a. Menganalisis dampak dukungan perkuatan terhadap peningkatan kapasitas
    bisnis UKM di sentra bisnis. Analisis ini mencakup penilaian terhadap
    komponen output, dan komponen UKM dari sentra bisnis.
b. Menganalisis dampak perkuatan terhadap kemandirian sentra bisnis.
c. Analisis tentang bentuk-bentuk dukungan perkuatan yang dibutuhkan oleh
    sentra pasca dukungan perkuatan.
d. Memotret dan menganalisis kinerja sentra bisnis UKM yang masih
    mendapat dukungan perkuatan.
e. Menganalisis efektivitas peran BDS dan KSP dalam pengembangan sentra
    bisnis.

III. METODE KAJIAN

Kajian ini termasuk jenis survei, yang dilaksanakan di 32 propinsi. Metode
pengumpulan data yang digunakan quantitative research yaitu melalui pendekatan
quantitative survey dengan menggunakan kuesioner berstruktur dan desk research
atas materi terkait.

Data yang akan dianalisis adalah data primer dan data sekunder. Data primer
berupa data runtun waktu (time series) dan cross section yang dikumpulkan dari
lapangan terhadap Sentra bisnis UKM, UKM, BDS, KSP/USP, dan Dinas Koperasi
dan UKM kabupaten/kota dan propinsi dengan menggunakan kuesioner terstruktur

Jumlah responden kajian terdiri dari 84 sentra yang terdiri dari 10 sektor yaitu
industri kayu/rotan/bambu, perikanan laut, perkebunan, tektil, makanan dan
minuman, pakaian jadi, unggas, peternakan, perikanan darat, barang-barang dari
tanah liat yang meliputi 840 UKM, 84 BDS dan 84 KSP/USP.




Metode analisis yang digunakan dalam kajian ini adalah :

q. Analisis deskriptif dan Chi-Square, dilakukan untuk menggambarkan
   tentang kondisi dan posisi responden dengan memakai metode distribusi
   frekwensi. Analisis distribusi frekwensi ini akan menggambarkan
   kecenderungan frekwensi variabel yang diamati.
q. Pendekatan matrix profil kompetitif : pendekatan ini ditujukan untuk menilai
   kinerja sektor unggulan yang akan diproyeksikan untuk menuju ke kluster
  (metode pembobotan dan rating)
q. Analisis EFE (External Factor Evaluation) : analisis ini ditujukan untuk
   menentukan seberapa besar peluang dan ancaman yang dihadapi oleh sentra
   pada 10 sektor
q. Analisis IFE (Internal Factor Evaluation) : analisis ini ditujukan untuk
   menentukan seberapa besar kekuatan dan kelemahan sentra pada 10 sektor
q. Analisis SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, And Threats) : untuk
   menentukan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dihadapi oleh
   masing masing sentra bisnis UKM pada 10 sektor
q. Matrix internal external : analisis ini digunakan untuk memberikan gambaran
   strategi yang lebih spesifik untuk memfokuskan pada hasil penghitungan

Jumat, 27 April 2012

TUGAS 6


FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INVESTASI SUATU NEGARA

      Pada intinya Investasi adalah suatu istilah dengan beberapa pengertian yang berhubungan dengan keuangan dan ekonomi. Istilah tersebut berkaitan dengan akumulasi suatu bentuk aktiva dengan suatu harapan mendapatkan keuntungan dimasa depan. Terkadang, investasi disebut juga sebagai penanaman modal.

      Investasi juga dapat dikatakan sebagai suatu penundaan konsumsi saat ini untuk konsumsi masa depan. Harapan pada keuntungan di masa datang merupakan kompensasi atas waktu dan risiko yang terkait dengan suatu investasi yang dilakukan.



Lantas apa saja faktor yg mempengaruhi investasi?

1.    Tingkat Suku Bunga 

Tingkat bunga mempunyai pengaruh yang signifikan pada dorongan untuk berinvestasi. Pada kegiatan produksi, pengolahan barang-barang modal atau bahan baku produksi memerlukan modal (input) lain untuk menghasilkan output / barang final.

2.    Kemajuan Teknologi

Kemajuan teknologi juga penting dalam akan meningkatkan efisiensi produksi dan mengurangi biaya produksi. Dengan kemajuan teknologi yang dimiliki oleh suatu negara akan memberikan peluang lebih besar pula untukdapat mendorong masuknya lebih banyak investasi.

3.    Prospek Ekonomi Di Masa Datang

Tidak dapat dipungkiri, harapan untuk adanya suatu peningkatan aktivitas perekonomian di masa datang merupakan salah satu faktor penentu untuk para investor dalam melakukan atau tidaknya suatu investasi. Jika diperkirakan akan terjadi peningkatan aktivitas perekonomian di masa yang akan datang, maka investor kemungkinan besar tidak akan menyia-nyiakan peluang yang memungkinkan untuk meraih keuntungan lebih besar di masa yang datang.

4.    Kestabilan Perekonomian Negara

     Faktor ini merupakan pertimbangan yang  sangat penting bagi investor dalam menjamin kepastian mereka berinvestasi karena bila keadaan perekonomian yang stabil akan menguntungkan mereka disebabkan Karena terciptanya inevstasi yang  aman bagi investor. Menurut Kepala ekonom DBS Bank David Carbon, Indonesia saat ini menjadi salah satu Negara sasaran investasi yang ideal karena memiliki struktur perekonomian yang cenderung stabil.

5.     Tingkat Pendapatan Nasional

    Tingkat pendapatan nasional yang tinggi akan memperbesar pendapatan masyarakat, sehingga akan  memperbesar permintaan terhadap barang dan jasa. Dengan demikian, keuntungan perusahaan akan  bertambah tinggi dan hal ini akan mendorong kegiatan investasi yang lebih banyak. Dalam jangka panjang,  apabila pendapatan nasional bertambah tinggi, maka investasi akan bertambah tinggi pula.

6.     Tingkat Inflasi
  
       Tingkat inflasi berpengaruh negatif pada tingkat investasi hal ini disebabkan karena tingkat inflasi yang tinggi  akan meningkatkan resiko proyek-proyek investasi dan dalam jangka panjang inflasi yang tinggi dapat  mengurangi rata-rata masa jatuh pinjam modal serta menimbulkan distrosi informasi tentang harga-harga  relatif. Disamping itu menurut Greene dan Pillanueva (1991), tingkat inflasi yang tinggi sering dinyatakan  sebagai ukuran ketidakstabilan roda ekonomi makro dan suatu ketidakmampuan pemerintah dalam  mengendalikan kebijakan ekonomi makro. 


FAKTOR PENENTU PERTUMBUHAN & PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI

1.    Investasi

     Faktor Investasi sangat penting dalam penentu pertumbuhan dan struktur ekonomi karena apabila dalam suatu negara investasinnya menurun maka akan mempengaruhi suatu defisa negara dan pendapatan sehingga berpengaruh pada struktur ekonomi.

2.   Sumber Daya Alam 

     Negara sedang berkembang bertumpu pada sumber daya alam dalam melaksanaan proses pembangunan. Tetapi, hal ini tidak menjamin keberhasilan tampa dukungan dari sumber daya manusian yang bertugas mengelolah. Sumber daya alam yang dimaksud meliputi tanah, minera, tambang, hasil hutan dan laut.

3.   Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Dengan perkembangan teknologi yang cepat mendorong terjadinya percepatan pembangunan. Pergantian tenaga ahli yang semula dengan tangan manusia diganti dengan mesin canggih yang lebih efisien, kualitas dan kuantitas.



4. Sumber Daya 


     Sampai saat ini SDM merupakan factor terpenting dalam proses pembangunan karena cepat lambatnya proses dalam pembangunan tergantung kepada sejauh mana sumber daya manusianya selaku objek memiliki kompetensi yang memadai untuk melaksanakan pembangunan.

5.   Perdagangan Luar Negeri

     Perdagangan luar negeri / Perdagangan Internasional perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antarperorangan (individu dengan individu), antara individu dengan pemerintah suatu negara atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain. Di banyak negara, perdagangan internasional menjadi salah satu faktor utama untuk meningkatkan GNP.

6.   Moneter dan Inflasi

Adanya kebijakan moneter adalah berpengaruh dengan persediaan uang negara apabila persediaan uang turun maka akan terjadinya suatu inflasi yang sangat mempengaruhi struktur ekonomi Negara. 





saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada narasumber atas referensi blog nya. karena tulisan nya saya dapat mengerjakan portfolio ini.




REFERENSI :






Sabtu, 21 April 2012

TUGAS 5

UPAYA PEMERINTAH DALAM MENGATASI KEMISKINAN

       Pada tugas kelima ini saya akan mencoba terlebih dahulu untuk menjelaskan definisi kemiskinan, Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.
 
       Masyarakat miskin Indonesia mencapai 13,33 persen atau sebanyak 31,02 juta orang, dari  jumlah penduduk Indonesia. Ini data yang disajikan Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2010 lalu. Di akhir tahun 2010, jumlah kemiskinan tersebut tentunya tidak jauh berbeda pertambahan ataupun pengurangannya.  Ini berarti bahwa kemiskinan masih merupakan masalah besar bangsa yang sudah puluhan tahun merdeka ini. Bayangkan, dengan jumlah penduduk miskin sebesar itu, kita mencatatkan diri sebagai Negara yang orang miskinnya lebih banyak dari jumlah penduduk Negara tetangga Malaysia. Karena di waktu yang sama Malaysia berpenduduk 26,79 juta orang. Ironi ini belum terjadi ketika di tahun 1975 dimana kemiskinan bukanlah topik bahasan utama di berbagai seminar dan surat-surat kabar. Baik masyarakat maupun pemerintah seperti tabu membahasnya. Pembangunan dianggap akan menghapuskan kemiskinan dengan sendirinya. Dan pakar ekonomi dengan analisis-analisisnya berdiri paling depan dalam barisan para pakar yang manganggap bahwa pertumbuhan ekonomi cukup mampu mengatasi segala masalah sosial ekonomi bangsa. Selama periode 1976-1996 (20 tahun, Repelita II-V) angka kemiskinan Indonesia turun drastis dari 40% menjadi 11% yang dianggap cukup menjadi pembenaran bahwa pertumbuhan ekonomi rata-rata 7% per tahun dalam periode itu adalah faktor penentunya. Maka krismon 1997-98 yang kembali meningkatkan angka kemiskinan menjadi 24% tahun 1998 dengan mudah dijadikan alasan kuat lain bahwa memang pertumbuhan ekonomi adalah segala-galanya.

      Program Penanggulangan Kemiskinan bersasaran (targeted poverty alleviation) paling serius dalam sejarah bangsa Indonesia adalah program IDT di sepertiga desa di Indonesia, dan program Takesra/Kukesra di dua pertiga desa lainnya. Keduanya didasarkan atas Inpres 5/1993 dan Inpres 3/1996, yang pertama dengan anggaran APBN dan yang kedua dari APBN ditambah bantuan konglomerat. Program IDT maupun Takesra/Kukesra keduanya dilaksanakan melalui pendekatan kelompok sasaran antara 15-30 kepala keluarga dengan pemberian modal bergulir, yang pertama (IDT) sebagai hibah dan yang kedua sebagai pinjaman/kredit mikro.

       Meskipun terkesan sudah gagal total karena tidak ada lagi dana segar yang disalurkan kepada penduduk miskin, dan sudah ada program-program penggantinya yaitu PPK (Program Pengembangan Kecamatan), tetapi penelitian membuktikan sebaliknya.

Upaya Pemerintah dalam mengatasi masalah kemiskinan :


Memberantas KORUPSI

      Kita semua tahu bahwa korupsi adalah musuh bersama yang harus dihilangkan dari Negeri ini. Karena mempersulit pembangunan ekonomi dengan membuat distorsi dan ketidak efisienan yang tinggi. Dalam sektor private, korupsi meningkatkan ongkos niaga karena kerugian dari pembayaran ilegal, ongkos manajemen dalam negosiasi dengan pejabat korup, dan risiko pembatalan perjanjian atau karena penyelidikan. Walaupun ada yang menyatakan bahwa korupsi mengurangi ongkos (niaga) dengan mempermudah birokrasi, korupsi juga memberikan ancaman besar bagi warga negaranya. Korupsi politis berarti kebijaksanaan pemerintah sering menguntungkan pemberi sogok, bukannya rakyat luas. Satu contoh lagi adalah bagaimana politikus membuat peraturan yang melindungi perusahaan besar, namun merugikan perusahaan-perusahaan kecil (SME). Politikus-politikus "pro-bisnis" ini hanya mengembalikan pertolongan kepada perusahaan besar yang memberikan sumbangan besar kepada kampanye pemilu mereka.

Menyediakan lapangan pekerjaan bagi pengangguran

      Pemerintah seharusnya bisa menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya, karena dengan cara inilah pengangguran bisa teratasi dan kemiskinan pun akan akan berkurang seiring dengan banyaknya masyarakat yang sudah mendapat lapangan pekerjaan.


Menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok

      Fokus program ini bertujuan menjamin daya beli masyarakat miskin/keluarga miskin untuk memenuhi kebutuhan pokok terutama beras dan kebutuhan pokok utama selain beras. Sehingga dengan begitu kita bisa mengurangi angka kemiskinan.

Mendorong pertumbuhan yang berpihak pada rakyat miskin

      Fokus program ini bertujuan mendorong terciptanya dan terfasilitasinya kesempatan berusaha yang lebih luas dan berkualitas bagi masyarakat/keluarga miskin, supaya mereka tidak berpangku tangan menunggu bantuan dari orang lain. Karena dengan begitu juga mereka bisa dipandang sebagai manusia pada umumnya yang harus bekerja keras.

Menjalankan program Zakat

       Kita tahu bahwa Indonesia adalah Negara dengan penduduk mayoritas Islam terbesar di dunia, dan Islam mengajarkan umatnya untuk berzakat karena zakat bisa mengurangi kecemburuan sosial, dendam dan rasa dongkol yang ada dalam dada fakir miskin. Karena masyarakat bawah biasanya jika melihat mereka yang berkelas ekonomi tinggi menghambur-hamburkan harta untuk sesuatu yang tidak bermanfaaat bisa tersulut rasa benci dan permusuhan mereka. Jikalau harta yang demikian melimpah itu dimanfaatkan untuk mengentaskan kemiskinan tentu akan terjalin keharmonisan dan cinta kasih antara si kaya dan si miskin.


Membangun sistem perlindungan sosial bagi masyarakat miskin.

      Fokus ini bertujuan melindungi penduduk miskin dari kemungkinan ketidakmampuan menghadapi guncangan sosial dan ekonomi. Program teknis yang di buat oleh pemerintah seperti:

•  Peningkatan kapasitas kelembagaan pengarusutamaan gender (PUG) dan anak (PUA).
• Pemberdayaan sosial keluarga, fakir miskin, komunitas adat terpencil, dan penyandang masalah kesejahteraan sosial lainnya.
• Bantuan sosial untuk masyarakat rentan, korban bencana alam, dan korban bencana sosial.
• Penyediaan bantuan tunai bagi rumah tangga sangat miskin (RTSM) yang memenuhi persyaratan.


saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada narasumber atas referensi blog nya. karena tulisan nya saya dapat mengerjakan portfolio ini.



REFERENSI :





Sabtu, 14 April 2012


TUGAS 4

PEMBIAYAAN SEKTOR MIKRO & CORPORATE

 Pembiayaan adalah kegiatan pembiayaan untuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan pembayaran secara angsura. Pembiayaan konsumen termasuk ke dalam jasa keuangan dan dapat dilakukan baik oleh bank ataupun lembaga keuangan non-bank dalam bentuk perusahaan pembiayaan.

           Pembiayaan Sektor Mikro disini adalah pembiayaan yang diberikan kepada pengusaha mikro. Maksud dari pengusaha mikro disini adalah orang yang menjalankan usaha produktif milik keluarga atau perorangan dan memiliki hasil penjualan paling banyak Rp 100.000.000 (Seratus Juta Rupiah). Contohnya usaha perdagangan kecil-kecilan seperti Penjahit, Warung Makan, PKL (Pedagang Kaki Lima, Pada zaman sekarang, bank-bank di Indonesia sudah banyak yang membuka pembiayaan untuk sektor ini. Seperti Sejumlah bank syariah tahun 2012 ini akan memperbesar portofolio pembiayaan ke sektor mikro. Hal ini disebabkan segmentasi pasar sektor mikro dinilai memiliki potensi nasabah yang besar dan sudah seharusnya sektor mendapatkan prioritas utama karena yang menjalankan sektor mikro tidak semuanya memiliki sejumlah uang untuk modal usaha, selain itu, sektor mikro ini juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas dan tentunya menguntungkan bagi Pemerintah.

            Pembiayaan Corporate (Perusahaan Pembiayaan) adalah lembaga keuangan yang memberikan pembiayaan dalam pengadaan aktiva tetap kepada pihak lain, baik individu maupun perusahaan, dan dananya tidak dikumpulkan secara langsung dari masyarakat. Dalam operasinya, pembiayaan ini mempunyai perbedaan dengan bank, terutama dalam sisi pasivanya. Skema bisnis perusahaan pembiayaan didasari oleh adanya underlying asset; dekatnya jaringan industri pembiayaan dengan industri manufaktur, distributor dan pemegang merek tunggal; serta mudah dan cepatnya pelayanan, membuat industri pembiayaan lebih dekat ke konsumennya dibandingkan industri pemberi kredit sejenis. Tujuan dari pembiayaan corporate ini tidak lain adalah mendapatkan keuntungan dan memaksimumkan kekayaan pemilik.


Pembiayaan manakah yang lebih menguntungkan dari keduanya?

            Menurut saya pembiayaan yang paling menguntungkan adalah Pembiayaan Mikro, karena sebagian besar masyarakat Indonesia adalah pelaku usaha mikro, kalau kita bisa meningkatkan performance mereka. Mereka dapat keuntungan, maka secara tidak langsung kita ikut meningkatkan perekonomian bangsa Indonesia. Karena efek multiplayernya lebih cepat dibandingkan dengan memberi pembiayaan kepada sektor besar. Misalnya kita punya dana Rp1 Milyar dan kita melakukan pembiayaan sebesar satu juta per orang, berarti ada seribu orang yang bisa kita bantu. Pengalaman dari krisis bangsa Indonesia yang berhasil bertahan bahkan tumbuh dengan baik adalah sektor mikro. Mereka mempunyai daya tahan yang lebih baik dan mempunyai daya adaptasi yang lebih cepat.

Apa saja tantangan dari kedua pembiayaan tersebut?

-          Pembiayaan Mikro

      • Peran Bank hanya salah satu sub-sistem
      • Produk / jasa market driven
      • Mampu mengenali karakteristik pasar

-          Pembiayaan Corporate

      •  Dana tidak dikumpulkan secara langsung dari masyarakat
      •  Persaingan antar perusahaan pembiayaan dengan lembaga keuangan semakin ketat
      •  Bisnis yang dilakukan oleh perusahaan pembiayaan adalah bisnis kepercayaan 



saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada narasumber atas referensi blog nya. karena tulisan nya saya dapat mengerjakan portfolio ini.


REFERENSI :